Kamis, 09 November 2017

The Writer

Kebijakan Baru di Jalan Tol yang Mengundang Kontroversi


Kartu e-toll menjadi fenomenal kini. Kartu ini adalah sejenis kartu elektronik yang diberlakukan sebagai alat pembayaran di gerbang masuk jalan tol. Kartu ini adalah realisasi dari kebijakan Gerbang Tol Online untuk gerbang tol di Indonesia.

Sebelumnya diberlakukan sistem tunai untuk pembayaran di gerbang jalan tol. Dimana para pengguna jalan tol harus membayar uang administrasi masuk secara tunai. Ini menyebabkan  panjangnya antrian kendaraan yang memasuki gerbang tol.

Seharusnya jalan tol adalah jalan bebas hambatan yang seharusnya memudahkan. Namun pada faktanya, banyak masalah yang terjadi. Jika dibiarkan berkepanjangan akan merusak kenyamanan para pengguna jalan. Pertimbangan akan masalah yang dihadapi ini kemudian diberlakukan sistem terbaru sebagai solusinya. Sistem ini disebut dengan sistem Gerbang Tol Online.

Pada aplikasinya, sistem GTO ini memang bermanfaat. Namun ada beberapa kesalahan persepsi. Di mana masyarakat beranggapan bahwa :

Sistem Gerbang Tol Online ini adalah sistem milik PT. Jasa Marga. Padahal sistem ini adalah milik BI atau Bank Indonesia yang tengah mengadakan program GNNT atau Gerakan Nasional Non Tunai. Dimaksudkan untuk mengganti sistem tunai menjadi non tunai, melakukan pembayaran di gerbang tol tunai menjadi non tunai menggunakan kartu elektronik.

Kesalahan persepsi ini bisa jadi karena kurangnya sosialisasi terhadap masyarakat. Kendati demikian perihal ini tidak terlalu menjadi masalah yang perlu dibesar-besarkan. Lambat laun masyarakat juga akan mengerti bahwa sistem ini merupakan miliki BI. Asalkan ada sosialisasi secara merata, kesalahan persepsi ini dapat segera diatasi.

Sistem Gerbang Tol Online ini dikoordinir oleh PT Jasa Marga. Bukan, karena sistem ini dikoordinir oleh BI dengan menggandeng PT. Jasa Marga menjadi salah satu dari 22 operator jalan di Indonesia.

Penggunaan kartu elektronik untuk masuk ke jalan tol yang dimulai akhir Oktober 2017 ini dicetuskan oleh PT. Jasa Marga. Padahal tidak, yang mencetuskan adalah BI. Karena selama ini Jasa Marga merupakan salah satu operator jalan yang sering menelurkan kebijakan, alhasil Jasa Marga selalu dianggap sebagai pencetus, padahal kali ini adalah kewenangan BI.

PT. Jasa Marga mendapatkan keuntungan dari pelaksanaan sistem Gerbang Tol Online. Padahal tidak, yang mendapatkan untung adalah BI karena bisa menyukseskan program GNNT.

Banyak cara yang dilakukan untuk menyelesaikan masalah yang pelik dalam pelaksanaan kebijakan yang ada. Salah satunya adalah dengan mengatasi kesalahan mindset tentang kartu e-toll yang lebih banyak melibatkan PT. Jasa Marga. Padahal BI adalah pihak penting yang berada di belakang kebijakan ini.

Kebijakan yang baru ini memiliki banyak manfaat. Meski masih banyak masyarakat yang kontra terhadap hal ini, namun dipastikan pelan-pelan para pengguna jalan akan mulai menerima dan merasakan manfaat dari diberlakukannya kartu e-toll ini.

The Writer

About The Writer -

Seorang pemusik yang hobby menulis

Subscribe to this Blog via Email :